Jalan Gula // Surabaya

Pernah sekali saya bermain ke Jalan Gula, di Surabaya sana. Saya tahu tempat ini dari saudara saya yang mau saya ajak jalan-jalan keliling kota tapi dia sedang sibuk sehingga saya disarankan unutk ke Jalan Gula. Di sana tempatnya bagus untuk foto-foto katanya.

Ujung gang Jalan Gula.
Tak sulit bagi saya untuk menemukan jalan ini. Tinggal buka aplikasi peta di hape saja, selesai tanpa perlu banyak tanya.



Sampai di Jalan gula, saya pikir tempatnya bakal seperti apa, eh ternyata hanya bangunan tua. Bagus sih kalo mau foto di sini dengan gaya klasik atau vintage gitu, apalagi kalau bawa model dan properti yang sesuai. Lha saya ke sana sendirian, jadinya ya lihat-lihat saja. Di sana juga ada sepedah onthel yang disewakan untuk berfoto, bisa dinaiki juga sepertinya. Bahkan ada sudut tembok yang tertempel cermin agak besar, sepertinya sengaja disediakan untuk bersolek bagi yang hendak berfoto.
Jalannya sempit seperti ini, tapi bisa ramai orang berfoto.

Tembok yang sudah mulai keropos, sudah menyerupai banguna candi saja.

Pintu Tua, sudah pasti tua karena bangunannya juga sudah tua.


Ini juga jendela tua, tapi sudah ditutup dengan kayu muda.
Puas berada di Jalan Gula, sebenarnya lebih ke bosan aja nih dari pada puas. Saya pulang. Nih di sini saya menemui beberapa kendala. Ternyata saya nyasar, karena peta di hape yang saya jadikan panduan GPS-nya ngaco. Tapi untung nyasarnya gak jauh-jauh dari jalan utama. Jadi ya masih bisa nemu jalan pulang.

Belum jauh dari sekitaran Jalan Gula, Surabaya semakin mendung, hujan tak terelakkan. Saya pun melipir, berteduh di teras toko yang sedang tutup. Tak berapa lama hujan mulai agak reda. Saya baru ingat kalau membawa jas hujan di bawah jok motor, saya mengenakannya dan melanjutkan perjalanan. Tapi cuaca mungkin sedang bercanda, tak seberapa jauh saya berjalan hujan kembali deras, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Saya melipir lagi, mencari tempat berteduh terdekat.

Ada deretan ruko yang kebetulan sedang tutup dengan halaman luas di depannya. Sudah banyak orang berteduh di terasnya, saya pun ikut-ikutan. Dan saya diam saja ketika berteduh sambil menunggu hujan reda. Tak yang terjadi selain air turun deras dari langit mengikuti gravitasi.

Hingga tiba-tiba ada bapak-bapak paruh baya berjalan dari tempatnya berteduh mendekati grojogan air yang turun dari kanopi teras ruko dan memasrahkan tubuhnya tersiram air hingga basah kuyup. Orang-orang di sekitar yang sedang berteduh membiarkannya saja karena dikira itu kemaunnya sendiri. Mendadak si bapak paruh baya itu menurunkan celana kolornya. Saya kira belio hendak pipis dan saya hendak menegur, jangan pipis di sembarang tempat pak! Tapi terlambat, dengan cepat bapak paruh baya itu juga melepas kaus yang dikenakannya sambil cengar-cengir menikmati guyuran air hujan dari kanopi ruko. Saya keliru, bapak paruh baya itu tidak sedang buang air kecil, tapi semacam sengaja mandi di bawah guyuran air hujan sambil memamerkan ketelanjangannya. Ya eksib, bapak paruh baya itu pamer. Karena menurut saya bapak itu tidak gila. Meski selama menikmati guyuran air hujan, mata si bapak paruh baya itu tak pernah menatap mata orang lain di sekitar, atau mungkin saya tidak tahu ketika bapak paruh baya itu menatap mata orang lain, karena saya sendiri ogah melihatnya.

Mas-mas dan mbak-mbak yang juga sedang berteduh sontak kaget tapi juga tidak ada yang menegur, mungkin sudah terlanjur mengira bapak paruh baya ini gila. Bahkan ada mbak-mbak yang baru datang berteduh segera bergegas mengenakan jas hujan kembali untuk meninggalkan tempat berteduh tak peduli menerjang hujan. Mungkin dia jijik, atau bahkan takut. Ya saya kira mas-mas dan mbak-mbak yang sedang berteduh tidak hanya jijik tapi bisa juga takut, terlihat raut muka dan ancang-ancang kabur atau melawan apabila si bapak paruh baya ini bertindak nekat.

Tapi rupanya si bapak paruh baya ini hanya ingin pamer saja. Karena begitu hujan mulai agak reda meskipun tidak bisa dibilang gerimis. Si bapak paruh baya mengenakan kaus dan celananya yang sudah basah kembali. Setelah itu belio langsung menunggangi sepeda onthel dan menggowesnya pergi.

Kami semua yang ada di situ terdiam, seperti berusaha menghapuskan memori barusan, tidak ada yang saling membahas.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram