Luntang Lantung di Tulungagung

Selasa, 30 Desember 2014, Menjelang tahun baru 2015. Saya seorang diri jalan-jalan ke Tulungagung. Awalnya saya ingin menyusul bapak ibu saya yang sudah duluan berangkat ke Trenggalek pada hari sebelumnya. Ketika itu lah saya berencana menyusul ke Trenggalek naik kereta api dari Malang.

Perjalanan saya dari Malang lancar-lancar saja, tiket kereta api yang saya beli seminggu sebelumnya tidak jadi hangus karen beruntung saya tidak jadi terlambat naik kereta. Hampir saja saya terlambat karena angkot yang saya tumpangi berjalan lambat sekali bahkan ngetemnya juga lama sekali.

Lanjut di kereta api yang mengantarkan saya sampai di Tulungagung, dari sini saya harus melanjutkan naik bus untuk bisa sampai ke Trenggalek. Untuk bisa naik bus, saya harus ke terminal dulu. Dari stasiun ke terminal saya naik becak. Duh ternyata ongkos naik becak lebih mahal dari pada naik kereta api. Kereta api dari Malang sampai Tulungagung, cuma 11.000, sedangkan becak, dari stasiun ke terminal, 20.000 rupiah, mahal sekali bukan? Dan sampailah saya di terminal kemudian saya harus membayar ongkos beca. Saat membayar ini lah saya baru tahu kalo uang saya gak bakalan cukup sampai di Trenggalek, bahkan untuk membayar becak saja masih kurang. Setelah merogoh seluruh saku celana, dompet, mebolak balik lipatan di tas, saya hanya menemukan uang 18.000 rupiah. Ya saya kasihkan saja itu semua uangnya, perjalanan menuju Trenggalek dipikir belakangan. 

Setelah membayar, sayarasanya seperti orang bodoh. Capek. Akhirnya, karena terlajnur enggan mikir bagaimana caranya bisa melanjutkan perjalanan, saya telpon saja bapak yang sedang santai di Trenggalek untuk menjemput saya di terminal tulungagung yang luntang lantung sebatang kara.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram