Jalan-jalan ke Panderman

Gunung Panderman adalah gunung yang terletak di pinggiran Kota Batu. Setiap orang yang melewati Kota Batu pasti bisa melihat gunung kecil ini. Sebenarnya tidak hanya dari Batu, dari Malang, gunung ini juga kelihatan. 
Gunung Penderman ukurannya relatif kecil, bentuknya mirip dengan mangkuk yang tertelungkup. Untuk mencapai puncak gunung ini tidak dibutuhkan waktu yang terlalu lama, hanya sekitar dua jam dari perkampungan terakhir. Bagi orang yang biasa mendaki gunung mungkin bisa lebih cepat. Atau bisa saja lebih lama bagi pemula.
Malam minggu kemarin saya sempat bermain-main ke sana. Sekedar jalan-jalan saja dari pada tidak ada kegiatan. Untuk mencapai sana saya naik motor yang kemudian saya titipkan di tempat parkir di kampung terakhir. waktu itu, ketika sampai di kampung terakhir ini sudah sekitar jam sembilan malam. Dan baru berangkat sekitar lima belas menit kemudian.
Kadang, perjalanan malam memang enak. Karena tidak harus diterpa sinar matahari langsung. Tapi perjalanan malam juga tidak kalah capeknya dengan siang karena harus lebih awas dengan keadaan sekitar. Mata juga harus lebih fokus membuat lebih cepat lelah. Malam itu yang rencana awal langsung ke puncak Panderman dan bermalam di sana, diubah berhenti dan bermalam di Latar Ombo, camp pertama bagi para pendaki jika ingin bermalam dan mendirikan tenda. Dari sini gemerlap lampu Kota Batu tampak kerlap-kerlip.
Setelah semalaman tidur, paginya saya melanjutkan perjalanan. Setelah Latar Ombo ini jalur pendakian semakin menanjak dengan kemiringan yang semakin curam. Apalagi ditambah dengan pepohonan di hutan ini yang sedikit gara-gara kebakaran kemarin. Ternyata untuk mendaki gunung yang relatif kecil ini cukup membuat badan lelah dan keringat bercucuran deras.

Foto bareng Kumez di Latar Ombo
Sesampainya di puncak, seperti pengalaman mendaki gunung sebelumnya, rasanya puas sekali, bangga dengan yang telah dicapai. Dan setelah itu rasanya enggan untuk turun kembali, selain suasana di puncak gunung yang nyaman sekali, jalur yang harus dilalui juga terjal. Setelah puas berlama-lama di puncak, saya harus turun kembali karena tidak mungkin tinggal lebih lama dengan kondisi logistik yang ada, selain masih ada kepentingan lain tentunya.
Sebenarnya, di hutan Gunung Panderman ini terdapat berbagai macam satwa seperti Monyet, Kera Putih dan masih banyak lainnya. Tapi gara-gara kebakaran hutan yang melanda kemarin membuat satwa-satwa itu berpindah tempat. Beruntung saya masih menjumpai seekor monyet yang bermain-main di pohon-pohon hitam yang baru terbakar. Kasihan monyet-monyet itu.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan dari pada naik kemarin. Waktu juga lebih cepat karena jalur yang menurun membuat badan terasa lebih ringan dengan berlari.
Mendaki gunung memang selalu memberikan kenangan dan kepuasan tersendiri.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram