Wednesday, August 24, 2011

Usil Yang Fatal

Hari itu seharusnya menjadi hari perpisahan yang indah.
Di pagi buta yang sejuk dan membahagiakan itu, kami terbangun dari tidur yang nenyak dengan memaksakan diri. Di tempat ini, untuk bangun tidur saja perlu perjuangan yang kuat untuk melawan rasa ngantuk. Apalagi ditambah dengan dinginnya suhu pegunungan dengan ketinggian sekitar 1700 mdpl. Rasanya, malas sekali untuk membuka mata. Melihat kehidupan nyata.

Rasanya, pagi itu masih seperti pagi-pagi sebelumnya selama satu bulan itu. Bangun tidur dengan malas-malasan namun tetap berusaha untuk bangun. Susah kan? Sebenarnya, udara di luar sejuk sekali. Tapi, sejuknya kelewat dingin. Jadi males juga untuk menikmatinya.

Mentari semakin meninggi dan membuat pagi di hari terakhir ini semakin cerah. Sepertinya tempat ini tidak ingin kami tinggalkan. Aku sudah terbangun sedari tadi. Dan masih ada teman-temanku yang masih bermalas-amalasan menikmati indahnya pagi. Aku bercengkrama dan bergurau dengan teman-temanku yang sudah tidak tidur lagi. Satu-satu kuajak bergurau di pagi yang cerah ini. Tidak hanya itu, aku juga mengusili mereka. Kadang-kadang aku memang usil.

Ada yang fatal dengan keusilanku pagi itu. Aku mencoba menggoda temanku dari kedamaian paginya. Sambil nyengir aneh aku mendekatinya. Dengan sedikit gerakan saja aku sudah bisa menangkapnya. Rupanya dia tidak berdaya melawanku atau mungkin juga tidak berkeinginan untuk melawanku. Entahlah. Dan gerakan terakhir untuk mengusiknya pun akhirnya kulakukan.

Dan kini aku tinggal menunggu apa yang akan terjadi. Bagaimana ekspresinya, apa sikapnya, dan apa yang akan dia lakukan. Dan ternyata aku tidak perlu menunggu untuk tahu apa yang akan terjadi.

Karena seketika itu. Setelah aku mengusiknya, ternyata dia...


Menangis.


Aku jadi bingung dengan apa yang aku lakukan. Dia menangis semakin bercucuran. Sungguh diluar dugaan. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya harus aku lakukan. Tapi aku langsung minta maaf karena aku pikir dia tidak suka dengan yang aku lakukan barusan. Dia semakin menutup rapat-rapat mukanya. Aku terus memohon maaf kepadanya dan mencoba menenangkannya.


Saat itu aku tahu kalau aku tidak pandai memohon apalagi merayu. Aku terus mencoba memohon namun dia tetap menutup muka dan waktu terus berjalan. Aku putus asa. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Dan aku pun meninggalkannya. Mungkin dengan  begitu dia bisa menenangkan dirinya sendiri.


Hari semakin siang dan semakin dekat dengan jam perpisahan. Tapi sebenarnya aku tidak terlalu berharap untuk cepat-cepat pulang. Aku masih mencari-cari momen yang tepat untuk meminta maaf lagi. 


Sumpah pagi itu aku tidak bisa berpikir jernih. Dinginnya udara membekukan otakku, darah terasa mampet tidak mengalir ke otak. Otakku semakin parah dengan minimnya cairan. Aku menyesal.


Waktu kepulangan semakin mendekat dan sebentar lagi akan berpisah. Aku masih berusaha untuk dapat mengucapkan maaf. Aku kawatir kalo besok tidak bisa bertemu lagi. Dan saat perpisahan itu pun terjadi. Aku dan teman-teman saling mengucapkan salam perpisahan dan berjabat tangan. Dan kepada dia yang pagi ini kuusik ketentraman hatinya. Aku pandang dia dan aku salami tangannya. Saat itu juga aku ucapkan permohonan maafku. Dia tidak bereaksi banyak. Dia hanya tersenyum dan memalingkan mukannya dari hadapanku. Aku masih ragu apakah dia memaafkanku atau tidak.


Semuanya berlalu begitu cepat. Tiba-tiba kita harus berangkat menempuh perjalanan panjang. Sepanjang perjalanan aku masih belum bisa tenang.


Besoknya aku pulang ke rumah. Sampai rumah pun aku masih kepikiran dia. Di rumah, sore itu ada sms masuk ke ponselku. Aku periksa dan aku tahu sms itu dari dia yang kemarin aku usik. Aku masih tidak tahu sms ini pertanda dia sudah memaafkanku atau bagaimana. Saat itu juga aku tidak tahu harus bersikap bagaimana dan harus aku balas dengan kalimat bagaimana pesan singkat itu. Akhirnya aku biarkan saja sampai kutemukan kalimat yang pas untuk membalasnya.


Malamnya, aku membalas pesan singkat itu dengan sedikit basa-basi dan permintaan maaf di akhirannya. Tidak ada balasan. Dan kebetulan sudah malam, akhirnya aku tidur aja masih dengan perasaan yang tidak tenang.


Esok paginya. Masih belulm ada balasan. Lalu aku mencoba mengririm lagi pesan semalam tapi ke nomor yang berbeda. Ke nomornya yang satunya. Karena masih pagi dan masih ngantuk juga, akhirnya aku tidur lagi.


Agak siang dikit. Aku bangun tidur. Bangun tidur di rumah terasa lebih hangat dari pada di tempat kemarin. Aku cek ponselku, dan ternyata ada balasan darinya. Di dalam pesan singkatnya, dia menulis kalau dia bisa memaafkanku. Sampai sini, aku mulai bisa lega tapi masih belum yakin karena tidak bisa bertemu langsung. Aku sms lagi dia untuk memastikan. Dan di sms yang kedua ini aku baru benar-benar yakin kalu dia benar-benar memaafkanku. Di sms-sms berikutnya. Aku mengjaknya bercanda sekedar untuk mencairkan suasana.


Sumpah. Kalo aku tidak bisa mendapatkan maaf darinya, aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri. 


Sekarang pikiran dan perasaanku terasa lebih tenang. Makan enak dan tidur pun nyenyak.

0 komentar:

Post a Comment