Saturday, April 30, 2011

Aku dan Rambut Gimbal

Sudah satu bulan ini aku merasakan yang namanya rambut gimbal. Gaya rambut model rasta. Tidak ada niatan khusus kenapa aku pengen punya model rambut kayak gini. Hanya saja, waktu itu ada temanku yang isengin rambutku dan aku tertarik dengan hasil karyanya. Ya sudah, aku minta dia untuk meneruskannya. Rambut gimbal.

Selama sebulan ini, beberapa teman memandangku dengan tatapan berbeda. Mungkin mereka penasaran, bahkan tangannya pun ikut penasaran. Jari-jarinya ikut menggerayangi kepalaku. Aku biarkan saja biar rasa penasarannya terpuaskan.

Ada teman yang kontra atau pro dengan gaya rambutku kemarin. Yang kontra bilang kalo aku seperti orang gila gak keurus. Sedangkan, yang pro mensupport dengan apa yang kulakukan dengan rambutku. Tapi, sebenarnya lebih banyak lagi yang cuek dengan model rambutku. Biarlah, aku sendiri sebenarnya tidak peduli dengan mereka. Karena bagiku, model atau gaya adalah selera masing-masing, tidak bisa dipaksakan.

Dalam sebulan ini aku juga sempat pulang ke rumah. Bertemu dengan keluargaku, Bapak, Ibu, dan lainnya. Memikirkan kalo aku akan pulang saja membuat perasaanku gak karuan. Sebenarnya aku nggak pengen pulang, tapi kalo aku gak pulang, bagaimana aku bisa hidup lebih lama lagi di perantuan. Pengalaman yang sudah-sudah, meski hanya dua hari saja di rumah. Orang-orang rumah banyak yang protes dengan gaya rambutku. Meski saat itu rambutku belum gimbal, "hanya" gondrong saja. Orang yang paling vokal menentangku adalah Bapak Ibuku. Bahkan, di kampus aku pernah bertemu dan ditegur oleh Bapak Rektor. Bagiku itu wajar saja bahkan mungkin seharunya begitu. Karena mereka adalah orang tuaku dan semua orang tua pasti tidak ingin anaknya berpenampilan nggak karuan sepertiku ini.

Bapakku tidak henti-hentinya memintaku untuk potong rambut. Apalagi Ibuku. Padahal aku sudah berusaha merapihkan rambutku yang panjang waktu itu. Bagi mereka, panjang tetaplah panjang (gondrong), tidak bisa dimanipulasi. Sebelumnya aku sudah membayang kan apa yang akan terjadi jika aku pulang, bahkan lebih heboh dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu, aku juga sudah menata mentalku sebelum aku pulang. Dan saat aku pulang dengan kondisi rambut gimbal, orang-orang rumah pada heboh menanggapiku. Mereka jijik dengan model rambutku. Mereka bilang, dengan rambut gimbal aku tampak lebih kotor, bauku tidak sedap, tidak pernah keramas, dan lain-lain. Untuk tampak lebih kotor mungkin aku bisa terima. Untuk bau tidak sedap dan tidak pernah keramas, aku langsung membantahnya. Karena meski dengan kondisi yang katanya tampak lebih kotor aku masih rajin mandi dan keramas. Dan untuk membuktikannya aku tunjukkan rambutku yang gimbal ini. Meski gimbal, rambutku tetap wangi. Heuheuheu.....

Aku tahu, mereka memarahiku dengan bercanda. Tapi meski begitu aku mengerti perasaan mereka.

Sekarang sudah satu bulan berlalu dari sejak pertama kali rambutku digimbal, dan sudah satu bulan pula proyek rambut gimbalku belum selesai. Rasanya aneh dengan model rambut setengah gimbal dan setengah lurus. Dan, untuk mengakhiri persasaan anehku ini, aku putuskan untuk mengakhiri proyek rambut gimbal ini. Semalaman aku mengurai rambutku yang kusut ini. Dan saat tulisan ini diterbitkan, rambutku sudah lurus kembali seperti sedia kala.

0 komentar:

Post a Comment