Saturday, April 12, 2014

BBGGRRmagz

Sekarang saya sedang pengen bikin model publikasi yang beda, tidak seperti blog. mungkin semacam majalah tapi dalam format digital karena belum ada biaya atau pun sponsor untuk modal cetak. Intinya saya pengen bikin majalah elektronik saya sendiri.

Sementara ini isinya mungkin masih tentang kisah pribadi saya, masih mirip-mirip sama yang ada di blog, cuma akan ada lebih banyak gambar atau foto-foto. Pembaca akan dimanjakan matanya, karena tampilan visual yg beragam, tidak seperti di blog. Dan jumlah halamannya pun masih saya batasi, mungkin sekitar sepuluh halaman.

Kenapa saya berpikiran demikian, atau bahkan berkeinginan bikin majalah elektronik? itu karena saya suka dengan disain grafis dan layout.

Tunggu saja kabar berikutnya, saya akan publish majalah elektronik saya di blog ini juga kok.

Tuesday, April 8, 2014

April Padat Karya

Bulam april ini saya akan disibukkan dengan peringatan hari bumi bersama saudara-saudara di MAPALA Tursina dan juga akan sibuk dengsn penggarapan film untuk kompetisi bersamj teman-teman eks Workshop Film dan Sinematografi Fakultas Humaniora UIN MALIKI Malang.

Selain dua kesibukan tadi, saya masih rutin kuliah.

Saya mau bercerita tentang kesibukan saya yang hari bumi dan bikin film. Yang pertama hari bumi ini sudah direncanakan sejak awal kepengurusan baru terbentuk bulan Februari kemarin. Panitia sudah terbentuk dan sekaramg sudah kerja. Hari bumi tahun ini diperingati dengan penanaman 1000 pohon di Sendang Biru pada tanggal 20 April kemudian dilanjut dengan satu hari bebas asap di kampus pada tanggal 22 April. Saya sendiri di kepanitiaan ini kebagian job publikasi dan dokumentasi. Jadi semua urusan desain, publikasi, sampai dokumentasi menjadi tanggung jawab saya.

Kesibukan kedua saya di bulan april ini adalah bikin film. Filmnya nanti mau diikutin lomba di Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual. Di sini saya jadi editor. Kerjanya belakangan setelah shoting selesai.

Sebenarnya bagi sebagian orang, mungkin kesibukan saya ini biasa saja, dan sebenarnya saya juga. Tapi yang membuat beda dan mengharuskan saya untuk terus siap adalah penggarapan film ini berbarengan dengan persiapan hari bumi. Gimana, sibuk kan?

Monday, March 31, 2014

Matiin Lampu di Earth Hour

Akhir pekan terakhir di bulan Maret ini benar-benar akhir pekan yang meriah bagi saya. Setelah nonton layar tancap di UMM, hari sabtunya ada Earth Hour di Balai Kota Malang. Earth Hour itu aksi mematikan lampu selama 60 menit. Katanya sih untuk menghemat energi. Tapi ini memang sebuah permulaan yang baik untuk menjadi kebiasaan yang ramah lingkungan di kemudian hari.
Senyum Kaku
Oke, saya tidak akan cerita banyak-banyak tentang Earth Hour, tapi saya akan cerita ngapain aja saya kemarin di Earth Hour Malang. Kalo masih nggak ngerti apa itu Earth Hour, cari aja di Internet.

Sebenarnya saya telat datang di acara itu. Ketika saya datang lampu di Balai Kota sudah dimatikan. Malam itu lalu lintas Kota Malang memang sedang padat-padatnya. Terjadi kemacetan di beberapa titik dan saya terjebak di situ.

Ketika saya sampai di Balai Kota, ada paduan suara yang sedang bernyanyi, saya menikmati itu. kemudian ada atraksi main-main api dan diiringi dengan instrumental jimbe . Terakhir ada sexy dancer juga sebelum akhirnya lampu dinyalakan lagi jam 21.30 WIB.

Saya masih berputar-putar di halaman Balai Kota untuk foto-foto sebelum akhirnya pulang juga.

Dan di bawah ini adalah foto-foto lainnya yang sudah saya unggah di flickr.

Nonton Layar Tancap

Terakhir kali saya menyaksikan layar tancap itu pas SD, atau mungkin lebih muda dari itu. Yang jelas saat itu saya masih terlalu kecil untuk menonton film secara keseluruhan dan masih belum bisa mengingat semuanya.

Baru saja kemarin, saya menemukan lagi yang namanya layar tancap. Dalam rangka Hari Film Nasional. Seperti sebuah nostalgia masa kecil.

Film yang diputar ada dua, yang pertama film pendek Harap Tenang Ada Ujian dan yang kedua adalah 9 Summers 10 Autumns. Saya suka dengan film 9 Summers 10 Autumns yang bercerita tentang perjalanan hidup anak seorang supir angkot dari Batu sampai New York. Yang paling saya suka dari film ini adalah hubungan bapak anak yang mengharukan. Dari situ saya dapat belajar betapa pentingnya keluarga. Sejauh mana pun kita pergi, kita tetap harus pulang ke keluarga lag.

Layar tancap ini berlangsung dua hari. Jum'at-Sabtu 28-29 Maret.hari kedua saya tidak nonton lagi karena saya lebih memilih untuk ke Earth Hour di Balai Kota Malang.

Saya mau berterima kasih kepada KineKlub UMM yang sudah bikin layar tancap ini, semoga besok-besok atau tahun depan bisa ada lagi. Oh ya, setelah layar tancap ini juga ada Malang Film Festival. Saya sudah ada rencana untuk nonton, moga-moga masih kebagian tempat duduk.


Monday, March 24, 2014

Jatuh di Jalan Pulang

Minggu terakhir bulan maret Saya pulang ke rumah di Mojokerto lewat Batu kemudian Cangar dan Pacet. Saya memilih jalur ini karena di rasa lebih cepat dari pada harus memutar lewat Pandaan.


Saya sudah hafal betul dengan setiap tikungan sepanjang jalan ini. Bahkan setiap lubang-lubang di jalan. 

Mungkin akhir pekan kali ini nasib saya sedang tidak mujur. Mungkin juga karena saya tergesa-gesa hingga saya kurang hati-hati dengan jalan yang akan saya lalui. Yang kemudian mengakibatkan Saya terpeleset dan terjaduh dari motor dua kali, di tikungan yang berbeda, dan dua-duanya disebabkan oli yang tercecer di aspal.

Beruntung tidak terjadi apa-apa, motor tidak rusak, dan saya hanya lecet-lecet saja. Saya masih bisa beraktifitas seperti biasa. Dan jari lentik saya masih bisa menulis.

Saturday, March 8, 2014

Warung Kopi

Ilustrasi, bukan warung kopi.

Dulu ngopi sekedar ketemu sama teman aja, sama biar gak bosen sama rutinitas kuliah. Tapi sekarang keadaannya terbalik, ngopi sudah menjadi rutinitas. saking seringnya saya ngopi, saya jadi hafal betul siklus kehidupan di warung kopi dalam satu hari.

Biasanya sih begini:

07.00
Jam segini warung kopi masih tutup, tapi kadang-kadang ada juga yang udah buka, apalagi warung kopi yang 24 jam. Saya gak pernah ke warung kopi sepagi ini, soalnya kalo pagi saya kuliah, kalo gak gitu ya masih tidur. Kecuali gak tidur semalaman alias begadang, biar siangnya gak ngantuk, saya butuh asupa kafein di pagi hari.

09.00 - 10.00
Sebagian warung kopi udah buka, tinggal warung kopi yang emang bukanya sore. Saya lumayan suka ngopi jam segini. Karena biar gak malas-malasan di kosan. Biasanya kalo ngopi jam segini saya sendirian. Di warung kopi saya paling sering buka laptop trus internetan, baca-baca berita atau main-main di sosial media. Saya juga sering mengerjakan proyek desain grafis saya di warung kopi. Photoshop dan Illustrator yang sering saya pakai. Kalo gak gitu, ya nulis-nulis aja di blog. Kadang-kadang ngerjain tugas juga sih di warung kopi.

12.00 - Sore
Saya gak begitu suka ngopi di jam-jam ini. Tapi kalo harus ke warung kopi, saya pesen es.

18.00
Dari pagi sampek jam segini, pelanggan warung kopi biasa-biasa aja. Gak rame-rame amat. Saya sendiri kayaknya juga gak pernah nongkrong di warung kopi jam segini.

19.00
Pelanggan mulai berdatangan. Warung kopi mulai ramai.

20.00
Semakin ramai. Biasanya jam segini saya baru hadir di warung kopi. Pesen, kemudian dudk-duduk dan ngobrol-ngobrol aja.

21.00
Warung kopi semakin berisik. Asap semakin mengepul. Kalo udah gini, saya suka duduk di luar, di tempat terbuka, biar bisa bernapas lega, gak keganggu sama asap rokok. Karena saya bukan perokok dan gak suka sama rokok.

21.30
Kadang-kadang terdengar teriakan-teriakan gak jelas yang memekikkan telinga.

22.00
Warung kopi sudah penuh. Obrolan orang-orang semakin berisik. Tapi di warung kopi isinya gak cuma orang-orang ngobrol dan main-main aja. Ada juga yang ngerjain tugas, meski lebih banyak ngobrolnya dari pada ngerjain tugasnya. Kadang saya ketemu juga sama orang yang sedang berdiskusi, entah apa, bahkan ada juga yang rapat, tapi santai. Saya sendiri kalo gak ada yang dikerjain dan dipikirin, ya ngobrol-ngobrol aja. Karena kebanyakan warung kopi ada TV-nya juaga, kalo ada pertandingan sepak bola, apalagi antara klub atau tim populer yang banyak fans-nya, warung kopi menjadi semakin padat.

00.00
Pergantian hari, tapi masih ada orang di warung kopi. Kadang saya sudah pulang jam segini, kalo gak gitu ya lanjut sampai satu atau dua jam lagi.

Begitu terus kehidupan di warung kopi dari hari ke hari. Bahkan saya yang ada di dalam perputaran lingkaran siklusnya, saya merasa seperti deja vu setiap hari. Tapi gak setiap hari juga sih saya di warung kopi. Paling tidak, ya seperti inilah apa yang saya rasakan di warung kopi. Ini adalah sudut pandang saya tentang warung kopi.

Wednesday, January 1, 2014

Nonton Art Exhibition

Di penghujung tahun 2013, sempat ada art exhibition di Malang, namanya Desember Akhir, sebuah pameran karya seni rupa oleh DiDuaKa. Saya tahu acara ini dari internet. Karena saya suka dengan karya visual, saya langsung berencana dan langsung berangkat kesana esok harinya. Di galery sana saya melihat-lihat gambar yang sebenarnya saya tidak terlalu mengerti dengan gambar gambar yang dipamerkan. Tapi karena saya suka dengan karya visual, ya tetep saya lihat lihat juga.

Oke, mungkin saya tidak terlalu pandai untuk bercerita. Langsung aja, ini ada beberapa foto yang sempat saya ambil pas lihat pameran kemarin.








Oke, demikian posting blog saya kali ini, maaf nggak ada caption di masing masing foto untuk menjelaskan, lha ngerti aja nggak.

Tuesday, December 31, 2013

video Coban Trisula

Ini adalah video dari cerita yang pernah diposting sebelumnya. Jalan jalan ke Coban Trisula.


Ini salah satu fotonya:

Flashback 2013

Hmm, Sampai juga di penghujung tahun 2013. Ngapain aja yah selama 2013 ini? banyak. Tapi kalo diingat-ingat, yang paling berkesan selama 2013 ini adalah penggarapan film dokumenter perjalanan tim Tursina Explore #2. Gimana gak berkesan, lha wong shootingnya aja di awal tahun, editing-nya sepanjang tahun, benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Tapi dari situ saya jadi tahu betapa susahnya membuat film itu.

Sedikit cerita tentang penggarapan film ini. Berawal dari program kerja pengurus Mapala Tursina untuk ekspedisi ke Taman Nasional Ujung Kulon, sebenarnya ekspedisi ini hampir di cancel karena sudah di penghujung periode kepengurusan. Tapi, karena masih ada ambisi untuk berangkat, akhirnya ekspedisi ini diniati untuk berangkat. Apa pun itu, kalo udah niat pasti akan terwujud. Dan di awal bulan Februari, berangkatlah kami ke Ujung Kulon untuk ketemu sama Badak. Saya ditunjuk oleh management tim ekspedisi menjadi seksi dokumentasi sekaligus kameramen film dokumenter. Semua peristiwa selama sepuluh hari lebih dari Malang - Pandeglang - TNUK - balik ke Pandeglang - sampai balik ke Malang lagi terdokumentasi dengan rapih oleh saya. Semua kejadian di dalam Taman Nasional Ujung Kulon terekam oleh kamera, kecuali pas hujan.

Sampai di Malang, saya sudah siap dengan editing film, sequence demi sequence mulai tersusun, hingga masuklah proses editing. Satu per satu file video saya tonton untuk menentukan bagian mana yang akan dipotong untuk ditampilkan. Di awal-awal saya begitu semangat mengerjakan proyek ini. Belum dapat separuh saya meng-edit, saya sadar kalo ada yang kurang dari film ini. Ya, yang kurang itu adalah isu atau misi yang diangkat di film ini tidak ada, alhasil pesan yang akan disampaikan dari film ini pun akan kabur nantinya. Saya mulai berandai-andai jika bisa berangkat lagi ke Ujung Kulon, saya akan shooting lagi dengan tim ekspedisi dan mengambil gambar lebih banyak yang mengusung misi dari ekspedisi ini, tapi itu sudah tidak mungkin lagi. Semangat mulai mengendur, saya mulai kehilangan arah. Nyasar, dan penggarapan film ini pun tidak kunjung selesai. Sepanjang tahun saya hanya memandangi file-file video hasil rekaman yang menyesaki hard disk laptop saya.

Hingga pada akhirnya, pada 20 Desember 2013. Ada gawe besar di Mapala Tursina, yaitu Dies Maulidiyah XVIII Mapala Tursina. Di situ akan ada sarasehan tim ekspedisi yang pernah diberangkatkan Mapala Tursina, dari Tursina Explore yang pertama sampai yang ke-3. Di dalamnya ada Tim Tursina Explore #2 yang akan mempresentasikan hasil dari ekspedisi ke Ujung Kulon. Hasilnya ialah film dokementer yang belum selesai saya garap ini. Target untuk bisa memutar film di Dies Maulidiyah XVIII menjadi penyemangat baru bagi saya. Semakin dekat dengan hari-H saya semakin termotivasi untuk menyelesaikan film ini. Akhirnya dalam satu minggu penuh saya menyusun ulang proyek film ini. Saya menggarap film ini mulai dari nol lagi. Dua hari sebelum Dies Maulidiyah XVIII, film ini selesai. Lega sekali rasanya, beban mental dan pikiran selama 2013 akhirnya dapat terselesaikan. Dari situ saya jadi tahu, kalau saja editing film ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tidak perlu waktu sampai satu minggu untuk menyelesaikannya.

Huh, capek juga ternyata menggarap satu film saja. Selain sibuk dengan film dokumenter ini, sepanjang tahun 2013 hari-hari saya sama seperti kebanyakan mahasiswa yang aktif di UKM. Kuliah - UKM - kosan.

Kuliah saya selama semester genap tahun 2013, Februari - Juni, saya menambil banyak mata kuliah tapi pada akhirnya menghasilkan IP yang tidak terlalu banyak. Dengan IP yang jauh dibawah harapan, berdampak pada jatah SKS yang terbatas, berdampak pula pada kuliah semester ganjil, September - Desember, yang longgar. Selain kuliah, kalo ada waktu luang saya habiskan di gunung, kalo gak gitu ya ke pantai, tapi tetep lebih sering di kampus.

Liburan semester genap, saya sempat ke Taman Nasional Baluran di Situbondo, di sana saya benar-benar merasakan julukan dari TN Baluran ini, Africa van Java. Savanna dan satwa liar berkeliaran sejauh mata memandang. Baluran terkenal dengan burung-burungnya yang beragam. Kadang saya juga bertemu dengan Rusa yang bergerumbul dengan sesamanya ditengah savanna. Di Baluran juga ada pantainya, ombaknya sepoi-sepoi. Di pantai saya berenang dan mencoba kamera mainan waterproof yang baru saya beli saat itu.

Menjelang penghujung tahun 2013, pada bulan Oktober ada lomba desain poster Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang diselenggarakan oleh BKSDA wilayah III Jember. Saya tergiur dengan hadiahnya dan mendadak semangat untuk ikut lomba. Saya sempat kehabisan ide desain poster, karena sebelumnya sudah membuat sebelas desain poster untuk promo BATAFIA XVIII, sebuah program rekrutmen dari Mapala Tursina. Tapi, demi hadiah yang gila-gilaan bahkan bagi saya tidak masuk akal, bayangkan untuk sebuah desain poster, juara I mendapatkan 15 juta rupiah, juara II 10 juta rupiah, dan juara III 5 juta rupiah. Saya memaksa otak untuk berpikir kreatif. Lima hari saya berkonsentrasi untuk membuat tiga desain poster, dan langsung mengeposkannya dalam bentuk cetak ke Jember. Setelah menunggu pengumuman hasil penjurian, alhamdulillah saya menang, meski cuma juara II. Tapi hadiahnya tidak cuma-cuma. Dari hadiah ini saya bisa beli mainan baru, bayar hutang, disisihkan sebagian untuk Mapala Tursina, berbagi rejeki dengan anak anak Mapala Tursina, dan banyak lainnya. Kurang dari satu bulan, sepuluh juta itu sudah habis. Sampai-sampai saya lupa untuk sekedar beli baju atau celana baru karena banyak celana saya yang bolong-bolong di lutut bahkan ada juga yang bolong pas di selangkangan. Sampai saya juga lupa kalo hanya 10% dari sepuluh juta itu saya bisa bayar SPP sendiri tanpa harus minta ke orang tua. Astaghfirullan, banyak uang memang bikin orang jadi pelupa.

Yah, mungkin itulah hal-hal besar diantara hal-hal kecil lainnya yang saya alamai sepanjang 2013 ini. Besar atau kecil, banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Tapi, meski sudah banyak belajar, ternyata saya ini masih bodoh saja. Saya masih harus banyak belajar, belum saatnya selesai kuliah. Semoga saya yang masih bodoh ini mengambil manfaat dari pelajaran yang sudah-sudah untuk masa depan. Dan yang lebih penting bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitar saya. Amin!

Trus, apa resolusi untuk 2014?
Hah, resolusi? 1366x768 aja dah cukup.